Gajah Mada, Bergelut Dalam Kemelut Takhta dan Angkara ~ Langit Kresna Hariyadi

    Author: Adli Burdani Genre: »
    Rating

    xbook ~ Kemampuan imajinatif Langit Kresna Hariyadi dalam meramu sejarah Kedigjayaan Nusantara kuno kembali terlahir dalam novel fiksi sejarah Majahapit bertokoh utama lelaki paling populer sepanjang sejarah kerajaan itu. Gajah mada. Novel berjudul sama Gajah Mada ~ Bergelut Dalam Kemelut Takhta dan Angkara ini adalah buku kedua yang mengangkat sepak terjang prajurit cerdas yang nantinya akan menjadi sosok paling penting dalam penyatuan nusantara dibawah panji Gula Kelapa (Merah putih).

    Tindakan makar para Rakrian Dharmaputra Winehsuka ditahun 1319 yang dipimpin oleh Rakrian Kuti yang sempat membuat Raja Sri Jayanegara terusir menyelamatkan diri hingga ke pegunungan kapur arah utara jawadwipa memang telah diredam dengan gemilang oleh Gajah Mada dan pasukan elite Bhayangkara. Ra Tanca, satu-satunya ksatria Dharmawangsa Winehsuka yang tersisa karena di ampuni oleh Jayanegara melakukan tindakan yang tidak terduga 9 tahun berikutnya. Kepercayaan yang diberikan oleh Raja sebagai tabib kerajaan dimanfaatkan oleh Ra Tanca untuk menuntaskan dendam lama dengan meracuni penguasa Majapahit itu. Malang bagi Ra Tanca, tokoh kunci atas gagalnya makar Ra Kuti 9 tahun sebelumnya itu harus meregang nyawa di ujung keris Gajah Mada yang yang membenam jantungnya. Satu kata yang keluar dari Ra Kuti sebelum arwahnya meninggalkan raga memulai kisah ini.." Bagaskara Manjer Kawiryan.." 

    Bagi yang pernah membaca novel Langit Kresna Hariadi sebelumnya Gajah Mada, kalimat teliksandi ini sangat dikenal, dan jujur saya sendiri pun menggabungkan beberapa kata dalam novel ini dengan tafsir sekenanya menjadi nama putra kedua saya..hehe.. Bagaskara Amurwabhumi Kamuliyan Burdani. Walau menuai kontroversi, saya pribadi memandang nama adalah do'a dan kalau kita mengartikan nama ke empat kata tersebut artinya bagus. Cahaya Matahari yang menyinari Bumi dengan Kegemilangan. itu do'a saya. :) semoga.

    Oke, back to taufiq... posting ini tentang buku LKH bukan tentang biografi saya ato keluarga saya..hehe..mohon di maafkan. Kosongnya posisi pemimpin Majapahit pasca mangkatnya Jayanegara meninggalkan intrik politik yang cukup pelik. Selain karena Jayanegara tidak memiliki keturunan, satu-satunya pilihan adalah memilih salah satu dari dua orang Sekar Kedaton yang merupakan adik perempuan Jayanegara, Sri Gitarja dan Dyah Wiyat. Polemik bertambah karena ada desas desus kedua calon suami Sekar Kedaton tersebut tengah membangun kekuatan untuk menguasai takhta, karena otomatis lelaki yang menikahi Ratu sacara de facto adalah Raja. 

    Kemelut itu disusul dengan pembunuhan-pembunuhan misterius yang tidak diketahui siapa dalang dan tujuannya, kembali Gajah Mada beserta korps Bhayangkara-nya dibuat sibuk menuntaskan masalah ini. Membaca buku ini kita diajak berpetualang kembali ke masa lampau yang landskap nya di buat sangat detail oleh LKH, kita seakan melebur kedalam kisah ini, merasakan seakan kita juga tengah berada di tempat-tempat yang digambarkan oleh pengarang sebagai alun-alun, istana, griya, barak prajurit, dll. Seolah itu nyata. Padahal kita ketahui sendiri, Majapahit sendiri adalah sejarah besar tanpa sisa jejak. Pada zaman sekarang kita tidak lagi menemukan istana-istana pun situs-situs peninggalan kerajaan tersebut.

    Kecerobohan serta ngawurisme yang di kritik habis di seri pertama Gajah Mada menjadi pelajaran berharga bagi LKH dan lebih berhati-hati dalam mengatur alur cerita novel bergenre sejarah ini. Selisih tahun, tokoh, serta tempat yang di babat habis dan menjadi olok-olok kritikus menyadarkan nya untuk melakukan riset mendalam sebelum menuangkan imajinasinya dalam tulisan, permintaan maaf atas kecerobohannya dalam novel pertama sangat ksatria dan patut di apresiasi. 

    Penasaran dengan petualangan Gajah Mada ? yuk.. babat habis untaian kata dan karya imajinatif khas Langit Kresna Hariadi di novel ini. Kalau saya pribadi, diluar kebenaran fakta-fakta sejarah yang sebenarnya karya ini patut di beri 4 jempol karena keberaniannya dalam mengeksplorasi imajinasi. Salut 


     *******
    “Bagaskara Manjer Kawuryan? Siapakah orang yang mencoba bermain-main denganku menggunakan nama yang semestinya terkubur bersama kematian Ra Tanca?” Gajah Mada meletupkan rasa penasarannya dalam hati. Sembilan tahun sejak pemberontakan Ra Kuti, baru diketahui orang yang berada di balik nama itu adalah Ra Tanca. Setelah Ra Tanca mati, kini tiba-tiba ada orang lain yang menggunakan nama itu. Pemahaman terhadap kata sandi Bagaskara Manjer Kawuryan sangat terbatas dan nyaris terkubur oleh waktu yang telah bergerak sembilan tahun lamanya. Namun, ternyata di luar sana, entah siapa, setidaknya ada orang yang tahu makna kata sandi itu. Di balik penampilannya yang aneh, menunggang kuda putih, mengenakan jubah berwarna putih, dan menyembunyikan wajah di balik topeng, orang itu mengetahui banyak hal, mengetahui adanya kata sandi Bagaskara Manjer Kawuryan.

    Sinopsis pada halaman sampul belakang buku Gajah Mada: Bergelut dalam Kemelut Takhta dan Angkara

    *** 


    Gajah Mada, Bergelut dalam Kemelut Takhta dan Angkara
    Penulis: Langit Kresna Hariadi
    Penerbit: Tiga Serangkai, 2007
    Tebal: xii, 508 hlm

    Leave a Reply